Kata "peptide" muncul di banyak serum dengan janji yang bermacam-macam: mengencangkan, menghaluskan garis halus, "membangun kolagen". Sebagian ada dasarnya, sebagian dilebih-lebihkan. Yang jarang dijelaskan adalah bahwa peptide bukan satu bahan, melainkan satu keluarga besar dengan cara kerja yang berbeda-beda.

Peptide itu apa?

Peptide adalah rantai pendek asam amino, biasanya dua sampai beberapa puluh asam amino yang saling terhubung. Kalau rantainya panjang sekali, namanya menjadi protein. Kolagen, elastin, dan keratin di kulit adalah protein; peptide adalah potongan-potongan kecilnya.

Di dalam tubuh, peptide bekerja sebagai pembawa pesan. Ketika kolagen di kulit terurai, potongan peptide yang dihasilkan menjadi sinyal bagi sel untuk memproduksi kolagen baru. Ide dasar peptide dalam skincare meniru mekanisme ini: memberi sinyal, bukan mengganti.

Empat jenis yang umum di skincare

Signal peptide. Jenis yang paling banyak dipakai. Peptide ini "memberi tahu" sel kulit untuk memproduksi lebih banyak kolagen, elastin, atau komponen lain. Contoh yang sering muncul di daftar bahan adalah palmitoyl pentapeptide-4 (dikenal dengan nama dagang Matrixyl) dan palmitoyl tripeptide-1.

Carrier peptide. Peptide yang mengantarkan mineral, terutama tembaga, ke dalam kulit. Yang paling terkenal adalah copper peptide atau GHK-Cu, yang berperan dalam proses perbaikan jaringan dan sering muncul dalam produk dengan warna kebiruan samar.

Neurotransmitter-inhibiting peptide. Peptide yang mengurangi sinyal ke otot kecil di wajah, sehingga garis ekspresi terlihat lebih halus. Contohnya acetyl hexapeptide-8 (Argireline). Efeknya jauh lebih ringan daripada prosedur medis dan bersifat sementara.

Enzyme-inhibiting peptide. Peptide yang menghambat enzim pengurai kolagen, sehingga kolagen yang sudah ada bertahan lebih lama. Beberapa peptide dari kedelai dan beras masuk kategori ini.

Satu produk sering memakai kombinasi beberapa jenis, dan itulah yang biasanya disebut "peptide complex".

Apa yang bisa diharapkan?

Di sinilah ekspektasi perlu diluruskan.

  • Perubahan bertahap dan halus. Yang realistis dari peptide topikal adalah kulit yang terasa lebih halus, lebih kenyal, dan garis halus yang tampak sedikit lebih samar setelah pemakaian rutin selama delapan sampai dua belas minggu. Bukan kulit yang "terangkat" dalam beberapa hari.
  • Bukti ilmiahnya bervariasi. Beberapa peptide, seperti palmitoyl pentapeptide-4 dan GHK-Cu, punya penelitian yang cukup baik. Banyak yang lain hanya bersandar pada uji internal produsen atau pengujian di laboratorium, bukan pada kulit manusia.
  • Ukuran molekul menentukan. Peptide yang terlalu besar sulit menembus lapisan terluar kulit. Karena itu banyak peptide di skincare diberi "ekor" lemak (awalan palmitoyl di nama bahan) supaya lebih mudah masuk.
  • Peptide bukan pengganti tabir surya. Kerusakan kolagen paling banyak disebabkan sinar UV. Mencegahnya dengan tabir surya jauh lebih berdampak daripada memberi sinyal untuk memperbaikinya.

Peptide dan PDRN

Peptide sering dipasangkan dengan PDRN, bahan yang dikenal sebagai Salmon DNA. Keduanya bekerja dari sisi yang berbeda: peptide memberi sinyal kepada sel, sementara PDRN dipakai sebagai bahan pendukung regenerasi dan kondisi kulit secara umum. Kombinasi ini masuk akal secara konsep, tetapi ekspektasinya tetap sama, yaitu perubahan bertahap. Penjelasan lengkapnya ada di artikel apa itu PDRN dalam skincare.

Cara memakainya

Bentuk produk. Peptide paling sering hadir dalam serum karena bisa diformulasikan dengan konsentrasi lebih tinggi dan dipakai sebelum pelembap. Krim dan pelembap dengan peptide juga ada, dengan kadar yang biasanya lebih rendah.

Kapan. Pagi dan malam sama-sama boleh. Peptide tidak membuat kulit lebih sensitif terhadap matahari.

Urutan. Setelah membersihkan wajah dan sebelum pelembap, seperti serum pada umumnya. Panduannya ada di urutan pemakaian serum dan moisturizer.

Dengan bahan lain.

  • Cocok dipakai bersama hyaluronic acid, niacinamide, ceramide, dan pelembap pada umumnya.
  • Boleh dipakai bersama retinoid, dan sering dipasangkan karena tujuannya sama. Kalau kulit sedang sensitif, pakai peptide pagi dan retinoid malam.
  • Hindari memakainya bersamaan dengan asam berkonsentrasi tinggi (AHA, BHA, vitamin C jenis L-ascorbic acid dengan pH rendah). Keasaman tinggi bisa mengganggu stabilitas sebagian peptide. Beri jarak, misalnya asam di malam hari dan peptide di pagi hari.
  • Copper peptide sebaiknya tidak dipakai berbarengan dengan vitamin C murni. Dipisah pagi dan malam sudah cukup.

Konsistensi. Karena efeknya bertahap, peptide baru masuk akal kalau dipakai rutin selama minimal dua sampai tiga bulan.

Siapa yang cocok?

Peptide tergolong lembut dan jarang menimbulkan iritasi, sehingga cocok untuk hampir semua jenis kulit, termasuk kulit sensitif yang tidak tahan retinoid. Untuk kulit yang barrier-nya sedang lemah, peptide bukan prioritas; fokus dulu pada pelembap yang tenang, lalu tambahkan peptide setelah kulit nyaman kembali.

Seperti bahan aktif apa pun, kalau muncul kemerahan, gatal, atau perih yang tidak hilang setelah beberapa hari, hentikan pemakaian. Kalau keluhannya berlanjut, konsultasikan dengan dokter atau dokter spesialis kulit.